Friday, February 6, 2015

Cerita Tali Kasih Baby Milo

Eh, udah 2015 aja hahahaa tahun 2013 pernah bikin resolusi kalau di tahun 2014 harus rajin ngeblog hahahahaha resolusi hanyalah tinggal resolusi. Ahsudahlahwesbiyasa.

Jadi begini, tadi malam saya belajar tentang hidup dari tiga ekor kucing.
Mungkin selama beberapa hari ini saya kerap memposting foto bayi kucing di hampir semua media sosial saya (kekinian banget, emang, yagitulah). Kucing itu ditemukan oleh teman saya, Shabira di bawah pohon mangga depan gedung unit kami di kantor. Awalnya kucing itu lahir bersama dua saudaranya di bawah meja salah satu VP di gedung itu. Singkat cerita mungkin keluarga baru kucing itu dibuang. Sampai sore hari tinggal satu bayi kucing yang saat itu keadaannya memprihatinkan (lemas dan penuh semut) belum diambil juga sama ibu kucingnya. Mungkin bayi kucing tersebut sudah tersentuh tangan manusia. Dari info yang saya dapat di internet emang gitu sih katanya kalau kucing udah kena tangan manusia, ibu kucingnya nggak mau ngambil.
Akhirnya Shabira memutuskan untuk menjadi ibu asuh anak kucing tersebut dan saya sebagai tante asuh. Oke mulai sekarang mari kita sebut anak kucing itu dengan Milo. Milo Ginger Sebastian.



Milo 
Asal Nama : Chechnya
Arti Nama : Menjadi yang terbaik

Ginger
Asal Nama : Latin
Arti Nama : Seperti Musim Semi

Sebastian
Asal Nama :Yunani
Arti Nama : dari Sebasta yang artinya Laut


Kami berharap Milo tumbuh menjadi pribadi yang kuat, mandiri, hangat, dan bermanfaat bagi kaumnya. Tapi beneran lho dia hebat. Dia bisa bertahan hidup tanpa ibunya. Tiap dua jam kami kasih susu ke Milo. Paling sore dia dikasih minum jam 6 dan baru minum lagi esok harinya jam 8. Dia hebat, nggak mati :')


Sampai akhirnya kebingungan melanda kami. Weekend ini kami tidak di Bandung. Tidak ada yang bisa dititipi Milo. Segala jenis penitipan hewan kami hubungi tapi banyak yang tidak bersedia menerima Milo karena Milo masih berumur 4 hari. Terimakasih semesta kami menemukan petshop yang merangkap penitipan hewan dan ada dokter hewannya dengan catatan apabila kemungkinan terburuk terjadi kami tidak menuntut apa-apa. Akhirnya saya putuskan Milo pulang bersama saya dan esok paginya saya antar Milo ke petshop. Dia akan dititipkan di tempat yang tepat.
Niat banget ya? Lebay? Kalau yang pernah punya peliharaan yang diasuh dari lahir pasti ngerti banget perasaan ini. Kalau peliharaannya mati tapi kita sudah memberikan yang terbaik, tetap ada perasaan bersalah. Tapi kalau ternyata peliharaannya mati karena dia kelaparan dan kita nggak merawatnya dengan baik, itu pasti akan merasa bersalah selamanya. And yes, we tried to do our best (grammarnya bener kan ya? duh)

Disini cerita mengharukan tentang Milo dimulai~
Di kost saya ada kucing (sepertinya jantan), dia lahir di kost bersama kedua saudaranya juga. Tapi setelah seminggu kelahirannya, ibu dan kedua kakaknya meninggalkan dia. Entah kabur entah dibuang ibu kost. Dia hidup sebatang kara di kosan. Nasibnya persis banget Milo.
Sesampainya di kost, saya taruh Milo di kardus di depan kamar. Dari saya datang kucing jantan itu ngintip-ngintip ngeliatin saya. Kita sebut kucing jantan itu sebagai Romeo yah. Saya kasih minum Milo, Romeo ngintip-ngintip. Saya dekatilah si Romeo itu, saya usap-usap "Kalau kamu kasihan sama Milo, tolong bawa dia, bantu dia mendapatkan tempat yang aman, atau kamu bisa mengasuh dia, pliss, aku takut Milo mati", adegan ini dilakukan sambil penuh haru dan banyak pengharapan.
Saya tinggalin Romeo itu, saya tinggal buat beres-beres, Romeo ngintip-ngintip kardus Milo. Habis itu Romeo pergi. Iya Romeo pergi. Sebenernya saya takut-takut sih jangan-jangan kucing itu kanibal dan Romeo mau menjadikan Milo makan malamnya.
TERNYATA TIDAK, SISSS! Romeo kembali lagi dengan membawa Juliet (kucing betina yang kayaknya habis melahirkan, dilihat dari perutnya yang keriput dan puting susu yang menjuntai). Saya juga kurang mengerti apa hubungan antara Juliet dengan Romeo ini. Entah mereka itu pacaran, sudah bersuami istri, atau pasangan kumpul kebo (?) atau bahkan jangan-jangan Juliet ini ibu Romeo yang dulu pergi? Sudahlah tidak usah kita pikirkan hal ini karena yang akan kita bahas bukan hubungan antara Romeo dan Juliet.
Kembali lagi ke cerita Romeo-Juliet-Milo. Mereka (Romeo dan Juliet-Red) sesekali mendekati Milo, lalu kembali saling bercerita (Romeo dan Juliet yang saling bercerita) mungkin diskusi. Saya ambil Milo dan saya dekatkan ke Juliet. Juliet hanya mengendus-endus lalu pergi mendekati Romeo dan mereka saling bercerita. Kejadian itu terjadi berulang-ulang sampai saya putus asa, mungkin benar dia udah males kalau bukan sama anaknya sendiri. Dengan menahan air mata yang hampir jatuh saya memohon-mohon kepada Juliet, "Kamu habis melahirkan kan? tolong banget bawa Milo, susuin dia, dirawat, dikasih makan, dikelonin, jangan biarkan dia mati,"
Bolak balik saya sodor-sodorin Milo ke Juliet. Juliet bolak balik memandang dan berbicara ke Romeo. Asli ini adegan mengharukan banget.

 Juliet : jadi gimana Yang? Si Milo kita adopsi nggak? kasian dia nangis terus
Romeo : Yaudah deh Yang, kita adopsi aja dia. Kita rawat. Aku nggak tega denger dia nangis terus
Juliet yang kiri Romeo yang kanan

 
AKHIRNYA JULIET NGAMBIL MILO! DAN DIA SUSUIN MILO!!!
Juliet memperlakukan Milo dengan penuh kasih sayang. Milo juga terlihat senang mungkin karena dia menemukan yang selama ini dia cari.
Terimakasih Ya Allah, Engkau mengabulkan doa kami.
Pengin banget peluk mereka bertiga. Romeo dan Juliet kucing yang baik bangeeettt. Semoga hidup mereka berkah.
hewan aja gitu yah, harusnya manusia punya rasa empati yang lebih tinggi dari kucing.

posisi favorit Milo

Milo sekarang sudah hangat, terimakasih ya Juliet
Saya belajar beberapa hal disini, kalau kita punya niat baik, Tuhan pasti akan memudahkan jalan kita. Saya juga semakin tau arti menyayangi dan tolong menolong.
Milo pasti tadi malam tidur dengan hangat dan senang dan pagi ini pasti dia sudah sarapan enak.
Terimakasih Romeo dan Juliet, jaga Milo dengan baik, ya.
Selamat bermain, Milo, sampai jumpa lagi.

xoxo

Friday, November 28, 2014

Tersesat ke Entah Berantah


Dan kawan, 
Bawaku tersesat ke entah berantah 
Tersaru antara nikmat atau lara
 Berpeganglah erat, bersiap terhempas 
Ke tanda tanya
 --------------------------------------------------------------

Banda Neira - ke Entah Berantah

Wednesday, November 19, 2014

Tanjung Lesung, Don't Think, Just Go!



“Kalo mau buang kotor mata, memang mending ke Tanjung Lesung, mbak.’ Begitu kata Bapak yang saya temui di bus menuju Labuhan dari Serang.

07.30 pesawat yang mengantar kami kembali dari perjalanan dinas di Bandar Lampung mendarat di bandara Soekarno Hatta. Di antara kebisingan pagi itu tiba-tiba tercetus ide untuk escape ke Ujung Kulon.
‘Beneran ini Ujung Kulon? Jauh lho’
‘Iya, sok ah, don’t think just go. Mumpung besok libur, bisalah kita ke sana’
Okesip, akhirnya kami mengubah perjalanan yang awalnya akan ke Bandung,jadi ke Serang. Selama perjalanan yang kami tempuh 1,5 jam dan bertanya-tanya dengan penumpang sebelah, kami memutuskan untuk membatalkan perjalanan ke Ujung Kulon.
‘Meuni jauh pisan, neng kalo ke Ujung Kulon’, kata bapak yang duduk di sebelah teman saya.
Terus? Sekarang kami sudah terlanjur ada dalam perjalanan ke Serang, hahaha. Baiklah kami tidak kehilangan akal, kami merubah tujuan ke Tanjung Lesung yang konon merupakan Paradise in the west coast.
Setelah sampai di Serang, kami melanjutkan naik angkot menuju halte bus yang akan mengantar kami ke Labuhan. Perjalanan menuju Labuhan memakan waktu yang cukup lama, kurang lebih 2,5 jam. Hahahahaha, kalau diingat-ingat geli juga, kita kabur ke antah berantah. Telpon-telpon ke penginapan kebanyakan harga permalamnya tigaperempat gaji saya sebulan. Jadi Tanjung Lesung ini merupakan resort yang dikelola oleh pihak swasta. Private banget sih menurut saya kalo pengin escape dari bisingnya ibu kota. Halah.
Sampai di terminal Labuhan, perjalanan kami belum berakhir, kami harus menempuh perjalanan selama 1 jam naik Elf. Sepanjang perjalanan kami disuguhkan lukisan Tuhan yang sangat indah. Laut dan langit biru dengan hembusan angin.
Elf yang kami tumpangi tidak dapat mengantar kami ke pantainya, hahaha. Jadi kami memutuskan untuk naik ojek dan mencari penginapan. Semesta memang maha baik, akhirnya kami menemukan home stay milik Ibu Adam. Murah dan nyaman. Kami juga bias menyewa motor untuk jalan-jalan karena, ya gitu dehh, pantainya memang benar-benar ada di ujung.
Sampai di pantainya, sungguh kami nggak nyesel. Sepi waktu itu karena kami datang ketika weekday. Kami hanya duduk, foto, dan menikmati sunset.
sunset!








pantai Bodur

home stay ibu Adam

bonus

semua fotonya no filter ya, hahaha penting abis.
cuacanya sangat mendukung, uuuuu...


kendaraan menuju Serang itu banyak sih, baik dari Bandung maupun Jakarta hehehe, mau naik bus atau travel. Kalau travel ada Xtrans.
Terminal Serang - Pertigaan yang udah deket sama Tanjung Lesung (lupa namanya) = naik elf aja langsung jurusan Serang - Cibalung via Labuhan Rp 30.000,00
Dari pertigaan itu ke pantai bisa naik ojek.
Penginapan Ibu adam Rp 100.000,00 - 150.000,00 semalam, sudah pakai AC, MURAH hahaha
Sewa motor Rp 50.000,00
Tuesday, July 15, 2014

Pantai Mutun dan Pulau Tangkil, bermain air di Bandar Lampung



Bagi beberapa orang, dinas luar adalah pekerjaan yang kurang menyenangkan. Menghabiskan waktu, capek, bosen apalagi kalau harus pergi berminggu-minggu. Tapi saya malah senang kalau mendapat tugas untuk keluar kota. Dinas luar berarti saya akan melihat apa yang belum saya lihat hihi.
Setelah menyelesaikan tugas di Jember  kami harus melanjutkan perjalanan ke Tanjungkarang. Tanjungkarang ada di Lampung, hahaha sebelumnya saya coba cari di google map dimana letak Tanjungkarang itu, tapi nope, saya nggak menemukannya. Ternyata eh ternyata kata sepupu saya yang tinggal di sana ternyata Tanjungkarang adalah Bandar Lampung. Yapantesajasih.
Ini adalah kali pertama saya menginjakan kaki di pulau Sumatera! Hhahaha makanya saya sungguh bersemangat.
'Jadi kemana kita di Lampung nanti?', kata ketua geng.
'KILUAN!!!', dengan semangat saya menjawabnya.
Lalu kami mencari-cari bagaimana caranya ke Kiluan. Tapi sayang sungguh sayang, waktu yang kami miliki nggak cukup untuk ke Kiluan, terus nggak ada mobil yang mau disewa juga untuk dibawa ke Kiluan. Konon Kiluan sangat jauh dari kota Bandar Lampung, jalanannya jelek, dan belum ada listrik.
Baiklah mimpi saya untuk bertemu lumba-lumba pupus sudah. Akhirnya sepupu saya mengajak bermain ke Pantai Mutun dan Pulau Tangkil. Pantai Mutun ditempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam dari kota Bandar Lampung. Di sepanjang jalan akan kita jumpai bangunan-bangunan dengan Singgar di depannya. Singgar merupakan lambang khas kota Bandar Lampung.
And here we go Pantai Mutun!
sayangnya mendung :(

Pantai Mutun dan Pulau Tangkil dilihat dari gardu pandang

banyak yang jualan souvenir di sini


waw bisa bermain kano juga

haha rame abis

sayang, pantainya kotor

Setelah selesai sholat dan makan siang, kami melanjutkan menyebrang ke Pulau Tangkil. Kami menggunakan Perahu Bu Mona, harganya berapa yah, saya lupa -____-
Nggak jauh beda sama Pantai Mutun sih, di Pulau Tangkil kita bisa berenang, main pasir, sama main parasailling. Di sana kami benar-benar menikmati enaknya bermain air. Hahaha


taken by ketua geng



damai abis

Buat kami, Pantai Mutun dan Pulau Tangkil berhasil untuk merefresh pikiran kami sebelum besok harus bekerja lagi.
Terimakasih, Dian. Semoga lain waktu kita bisa ke Kiluan.

di sini tempat berkumpulnya remaja-remaja Bandar Lampung hihi
dan jangan lupa foto di patung Gajah