Wednesday, November 15, 2017

Mencoba Off Road di Lembang



Saya sebenarnya merasa banyak hutang dengan blog ini. Ada banyak draft yang nggak terselesaikan hahaha. Kebanyakan sih karena topiknya serius sayanya jadi agak malas melanjutkannya, duh.
Tapi saya juga pengin blog ini jangan sampai mati suri, kasihan dia sudah bertahun-tahun jadi tempat sampah saya, tempat untuk meluapkan segala emosi yang nggak bisa saya ungkapkan di twitter dan instagram hehehe.

Untuk menjaga eksistensi blog ini saya jadi ngepost foto-foto random deh. Kalau sekarang ini saya mau menceritakan pengalaman ikut off road di Lembang. Ini pertama kali saya ikutan off road, sayangnya lagi kemarau jadi debu dimana-mana masya Allah :( Mungkin kalau sedang musim hujan lebih seru karena kena ciprat sana ciprat sini.



debunya banyak sekali

Off road dimulai dari daerah Parompong kalau nggak salah, jalan ke arah Dusun Bambu kalau dari arah Ledeng, setelah penjual-penjual bunga, lupa namanya. Off road ini memakan waktu total 4 jam, namun kami juga sempat berhenti di Simpang Baidit untuk games dan makan siang. Simpang Baidit merupakan lapangan luas di pinggir hutan. Enak sekali makan siang waktu itu ayam bakar dan nasi timbel, tidak lupa juga teh tawar panasnya.

sempit sekali dan terjal bukan main

suasana di Simpang Baidit



Perasaan saya ketika pertama kali mencoba off road ini sangat degdegan, terjal sekali medannya, tanahnya juga naik turun mengerikan. Saya takut mobilnya terbalik :( Tapi setelah melewati seperempat perjalanan saya sudah bisa menikmati sensasi terguncang-guncangnya.

Setelah selesai makan siang dan bermain games kami melanjutkan perjalanan lagi yang finishnya sampai di Grafika Cikole. Di sini kami harusnya bermain flying fox tapi saya memutuskan tidak ikut dan memilih untuk jalan-jalan di rumah-rumah lucu dan menghirup udara segar.


Grafika Cikole Lembang




Off road ini saya ikuti karena sedang ada acara kantor, biasanya kami rafting di Pengalengan tapi karena bosan kami coba untuk bermain ke utara. Kalau nanti ada acara off road lagi saya pasti mau ikutan. Apalagi kalau sudah masuk musim hujan, pasti lebih mengasyikan :)
Monday, November 13, 2017

RANDOM #2

Menindaklanjuti postingan RANDOM #1 ini juga foto-foto random di hape. Nggak ngertilah sama komposisi dansebagainya. Don't think, just shoot! hahahaha













RANDOM #1

Hari ini sedih banget karena mengetahui sepatu Nab benar-benar hilang. Pastinya jatuh di Stasiun waktu nganter Eyang pulang, disusuri sepanjang jalan nggak nemu, esok paginya juga coba cari lagi nggak nemu juga, lalu jadi sedih banget. Sedih karena sepatunya punya kenangan, itu sepatu walker pertama Nab, enak banget sepertinya dipakai, solnya lentur hiks.
Yasudahlah mungkin rejeki Nab hanya sampai disitu saja pakai sepatunya. Semoga Allah nanti mengganti dengan sepatu yang lebih bagus. Ibu harus ikhlas.

Di kantor jadi nggak mood sih, terus jadi cari-cari foto random di hape hehehe :)












Friday, September 22, 2017

Mengajak Nab Naik Damri Dago - Leuwipanjang


Sejak usia 10 bulan, Nab memperlihatkan ketertarikan terhadap kendaraan khususnya Damri, kami menyebutnya dengan Bus Besar. Nab bisa teriak-teriak kegirangan ketika bertemu dengan Bus Besarnya. Bus besar kerap kami temui ketika berangkat dan pulang sekolah, Oleh karena itu saya ingin sekali mengajak Nab naik bus ini.
Beberapa pekan lalu saya dan suami mencoba mengajak Nab naik Bus Besar namun Nab malah tidur, akhirnya kami urungkan niatnya karena percuma saja naik Damri tapi Nabnya tidur. Padahal waktu itu kami sudah ada di pinggir jalan menunggu Damri hehe.
Lalu kemarin kami mengajak Nab naik Bus Besar lagi, tapi setelah Nab tidur dan makan siang dulu biar di jalan nggak cranky. Kami mencoba naik jurusan Dago - Leuwipanjang karena pangkalan busnya dekat dari rumah. Rutenya dari DU sampai Bank Indonesia. Setelah turun kami ke Masjid Ukhuwah untuk sholat Ashar lalu lanjut jalan kaki ke Riau Junction beli sayur.
Nab senang sekali ketika menunggu busnya jalan. Dia lari-lari di dalam bus sambil sesekali tertawa dan tepuk tangan.
Dari pengalaman ini saya jadi berfikir, sepertinya saya sudah lama sekali nggak merasakan kegirangan seperti yang Nab rasakan ketika melihat sesuatu yang disenangi.
Baiklah saya akan mencoba mencari lagi hal-hal yang sepertinya remeh temeh tapi membuat senang :)

Akhirnya naik Bus Besar ya, Nab.
Wednesday, September 20, 2017

Menghabiskan Sore di Teras Cikapundung


Setiap weekend apabila tidak ada acara kami selalu menyempatkan untuk bermain, baik itu hanya jalan-jalan atau bermain di taman. Terima kasih Bapak Ridwan Kamil telah membangun banyak taman yang asyik di Bandung :)
Kemarin kami bermain ke Teras Cikapundung, setelah sekian lama taman ini diresmikan, kami baru menyempatkan bermain di sini hehehe. Padahal tinggalnya di Dago.
Sebelum menjadi taman saya suka takut kalau lewat tempat ini malam-malam, serem kan ya buat kalian yang tahu. Dulu penerangan sangat minin, belum lagi harus lewat jembatan dan melewati hutan depan Saraga itu huhu. Kalau habis bergaul dari Ciwalk enaknya sih langsung lewat situ ya kalau mau pulang ke Dago, saya mah lebih milih muter lewat jembatan layang hahaha. Kalau sekarang? ya tentu tidak, sudah terang, nggak semengerikan dulu.





Taman ini terdapat banyak wahana untuk dilihat-lihat, ada air mancur yang akan menyala pada jam-jam tertentu, terapi ikan, memberi makan ikan atau naik perahu karet. Di sana juga ada bapak penjual jagung bakar. Jadi sambil bersantai menghabiskan sore bisa sambil ngemil jagung bakar.
Waktu kami kesana kebetulan air mancurnya sedang nyala dan Nab betah banget dong nggak mau pulang, mana waktu itu dia kegirangan joged-joged dan lagunya goyang dumang -_-





Taman ini buka setiap hari dari pukul 07.00 sampai pukul 22.00, untuk biaya masuknya gratis hanya bayar parkir saja. Kalau bermain kesini enaknya pagi hari hari sebelum pukul 10.00 atau sore hari, karena kalau siang-siang banget panas dan tempat berteduhnya sedikit.
Ohiya yang saya suka juga dari tempat ini, ada beberapa mural karya seniman-seniman. Kalau mau foto buat ootd tempat ini juga oke kok hehehe.
Sampai jumpa di taman-taman berikutnya, ya!