morning dew

11:59 AM

Sudah hampir satu bulan ini saya merasa sangat tidak produktif padahal seharusnya saya sedang sibuk mengerjakan Tugas Akhir saya. Iya saya bingung sendiri harus diapakan itu TA. Ketika memutuskan mengambil tema ini saya tidak memikirkan nanti kedepannya mau bagaimana.
Mungkin saat itu adalah saat dimana orang menyebutnya dengan idealis,saya ingin tugas akhir saya beda, maksimal, dapat memberikan kontribusi kepada masyarakat, dan unik. Saya mengambil tema ilustrasi dengan gaya bahasa ruang waktu datar.
Sejujurnya saya tidak begitu memahami mengenai konsep ini, dosen-dosenpun sedikit yang tahu mengenai rwd tersebut, saya tanya ke sana sini, mencari literatur, tapi itu masih kurang menurut saya, sempat saya putus asa dan berkeinginan mengganti tema. Tetapi waktu itu dosen pembimbing saya mengatakan "pertahankan saja temamu, saya akan mencoba membantu, ta mu kali ini dapat menghadirkan suasana baru di kampus" dari situ saya mulai bersemangat menyelesaikan konsep untuk ta saya.
Eentah apa yang ada dalam pikiran saya saat itu ketika mengajukan proposal, tema yang saya berikan semuanya mengenai ilustrasi. Di kampus gambar saya mungkin dapat dikategorikan sebagai kalangan menengah ke bawah dibandingkan yang lain. Iya gambar saya biasa-biasa saja.
Ada beberapa teman yang memang jago di ilustrasi tapi justru memilih branding, sempat saya memikirkan untuk ambil branding, tapi entah kenapa saya kekeuh mempertahankan keinginan saya untuk tetap ambil ilustrasi.
Ketika kecil saya sama sekali tidak pernah bermimpi untuk menjadi ilustrator ataupun desainer grafis, saya sangat gaptek, bahkan ketika saya duduk di bangku SMA corel draw dan photoshop saya sama sekali tidak tertarik untuk mempelajarinya.
Sejak kecil saya ingin jadi penulis, apapun itu, saya ingin menerbitkan novel. ketika SD dan SMP saya memiliki buku yang berisikan cerpen maupun cerita panjang yang saya buat, namun selalu antiklimaks karena saya tidak mengerti bagaimana harus mengakhiri cerita tersebut. Saya suka sekali membaca, apapun itu dan itulah yang menginspirasi sejak saya SD untuk memiliki perpustakaan dengan kafe yang menjual brownis, kopi, dan teh. Arsitek juga pernah menjadi salah satu cita-cita saya namun keputusan saya berubah ketika saya mengetahui saya lemah di fisika dan saya berbalik haluan saya berkeinginan kuliah di komunikasi dan menjadi jurnalis. 3 kali saya mencoba mengikuti tes masuk komunikasi, 3 kali pula saya gagal, akhirnya saya bisa ikhlas kalau itu mungkin memang bukan jalan saya.
Saya teringat ketika SD saya tidak pernah melewatkan acara penganugrahan Putri Indonesia, saya pernah  berjanji pada diri saya sendiri bahwa saya akan jadi Putri Indonesia mewakili Jawa Tengah. Ketika acara tersebut selesai saya akan mencoba menjawab pertanyaan yang diberikan juri kepada peserta dengan jawaban saya sendiri, saya mempraktekannya di depan cermin. Dan lagi sampai sekarang saya tidak bisa mewujudkan mimpi ketika saya kecil itu. Karena semakin bertambahnya usia semakin bertambahnya kesadaran akan seberapa besar kemampuan yang saya miliki.
Masuk SMP saya sangat minder, saya bukan termasuk anak pintar di bidang akademis. Prestasi yang dapat saya raih ketika itu menjuarai lomba lukis yang diadakan di sekolah, itu lumayan membuat nama saya naik dan sedikit dikenal guru. Naik ke kelas dua saya semakin minder, saya terjebak di kelas unggulan, bayangkan, saya pernah dapat renking 11 di kelas saya, namun nilai saya melebihi nilai anak rangking 1 di kelas lain.
Saya remidi sana sini, sampai ada teman yang bilang 'yas aku kasihan sama kamu tiap kali ulangan pasti remidi' sedih sekali saya waktu itu. Nama saya kembali muncul ketika saya mewakili sekolah untuk mengikuti lomba menulis, ini lumayan ada beberapa guru yang jadi kenal saya. Ketika kelas 3 berkeinginan masuk ke SMA 2 Purwokerto, itu cita-cita saya sejak saya SD. Itu mungkin yang membuat teman-teman saya kaget, saya bukan termasuk anak pintar seperti mereka tapi saya berani bilang, saya mau sekolah di SMA 2 Purwokerto. Saya berusaha keras dan benar, akhirnya saya masuk. Kehidupan saya di SMA tidak seperti yang ada di ftv dan film-film. Saya tumbuh menjadi remaja yang biasa saja, saya tidak populer, nilai akademik saya ada jauh di bawah, saya tampil secara invisible dan sesekali dianggap aneh. Di kelas 3 saya menjadi bagian dari anak-anak yang 'tersingkir' mereka menganggap saya bodoh untuk hal-hal akademis, ah sudahlah memang kenyataannya begitu. Ketika anak lain memikirkan try out ujian masuk dan belajar untuk ujian nasional saya dibantu sahabat saya Oyi justru iseng-iseng menggambar untuk diikutkan lomba mural SMA, ketika itu kami nggak peduli kalau anak kelas tidak ikut berpartisipasi dalam hal ini. Namun ternyata gambar yang saya kirim kepanitia lolos seleksi, ketika hari H ada beberapa anak yang mau membantu menyelesaikan gambarnya dan akhirnya xii ipa 7 keluar sebagai juara umum. Saya senang bukan main waktu itu karena ini adalah salah satu pembuktian saya, kalau saya itu ada.
Lagi lagi saya dipandang sebelah mata ketika saya bilang 'aku nggak akan kuliah di UNSUD' anak bodoh macam saya saja sombong nggak mau kuliah di UNSUD, dan sekarang inilah saya, saya menemukan jalan saya, ini jalan yang ditunjukan oleh Alloh kepada saya, saya kuliah di jurusan desain grafis.
Di kampuspun saya bukan termasuk orang yang populer, saya masih tetap memakai mode invisible. Awal kuliah saya mencoba untuk berproses, saya memenangkan lomba lukis sepatu se-Solo sekali lagi saya masih merasa minder karena saat itu juri lomba ini adalah teman saya sendiri, saya merasa saya menang karena jurinya adalah teman saya. Saya bukan orang penuh percaya diri, ketika orang lain memandang rendah saya, bukannya saya bangkit dan menunjukan kalau saya bisa, saya malah makin tenggelam. Saya akui itu memang kelemahan saya dan sekarang saya sedang memeranginya. Saya sangat terimakasih kepada keluarga, pacar, dan sahabat-sahabat saya yang selalu meyakini kalau saya itu bisa menggambar.
Hari ini saya telah menyelesaikan buku Dream Catcher karya Alanda Kariza, buku ini memberikan saya insprirasi bagaimana mewujudkan mimpi-mimpi yang saya punya. Dream Catcher memang buku pengembangan diri namun Alanda mampu membagi pengalamannya tanpa dia harus berperan sebagai motivator yang menggurui. Dari buku ini saya belajar bagaimana memanajemen mimpi untuk dapat merealisasikannya. buatlah mimpi yang sesuai dengan passion kamu, maka kamu akan lebih maksimal untuk mewujudkannya.
Yang semakin membuat saya tertarik membeli buku ini adalah ilustrasi covernya. Ilustrator dari buku ini adalah Asyera Bela, dia salah satu ilustrator idolah saya, saat ini dia sedang mengerjakan project untuk pernikahannya, dia membuat semua pernak-pernik pernikahan mulai dari undangan dan nomor meja dia sendiri yang mengerjakan. Dari dialah saya terinspirasi suatu saat nanti ketika saya menikah saya akan mengerjakan segala sesuatunya dengan tangan saya sendiri.
Setelah semua hal yang saya alami, saya mendapatkan satu poin penting, selesaikan semua hal yang telah kita mulai. Wujudkan semua yang menjadi keinginan kita.
Pulo Coelho pernah berkata And, when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.
Say hello for the bright future :)


You Might Also Like

2 komentar

  1. hai kak --,
    aku tau kamu bisa. lihat deh orang" sukses diluar sana. banyak dari mereka yang dulunya bukan siapa-siapa. sekarang, siapa-siapa tau mereka. bismillah and just do it kak ;)

    ReplyDelete
  2. Kadang, tidak meraih apa yang diimpikan bukan berarti bahwa tujuan itu tak terwujud. Merelakan mungkin bisa menjadi jalan terbaik untuk menjemput mimpi lain yang Tuhan kasih ke kamu. Yang jadi pegangan aku sih : “Jika nasi sudah menjadi bubur maka buatlah bubur itu menjadi enak”. Totalitas itu penting. Siapa sangka ketika kita sedang menghadapi sedikit tantangan sebenarnya Tuhan ingin menguji totalitas kita. Aku yakin kamu bisa menjadi illustrator cerita anak paling handal se-Indonesia.

    ReplyDelete

Subscribe