Tersesat ke Entah Berantah

Friday, November 28, 2014


Dan kawan, 
Bawaku tersesat ke entah berantah 
Tersaru antara nikmat atau lara
 Berpeganglah erat, bersiap terhempas 
Ke tanda tanya
 --------------------------------------------------------------

Banda Neira - ke Entah Berantah

Tanjung Lesung, Don't Think, Just Go!

Wednesday, November 19, 2014



“Kalo mau buang kotor mata, memang mending ke Tanjung Lesung, mbak.’ Begitu kata Bapak yang saya temui di bus menuju Labuhan dari Serang.

07.30 pesawat yang mengantar kami kembali dari perjalanan dinas di Bandar Lampung mendarat di bandara Soekarno Hatta. Di antara kebisingan pagi itu tiba-tiba tercetus ide untuk escape ke Ujung Kulon.
‘Beneran ini Ujung Kulon? Jauh lho’
‘Iya, sok ah, don’t think just go. Mumpung besok libur, bisalah kita ke sana’
Okesip, akhirnya kami mengubah perjalanan yang awalnya akan ke Bandung,jadi ke Serang. Selama perjalanan yang kami tempuh 1,5 jam dan bertanya-tanya dengan penumpang sebelah, kami memutuskan untuk membatalkan perjalanan ke Ujung Kulon.
‘Meuni jauh pisan, neng kalo ke Ujung Kulon’, kata bapak yang duduk di sebelah teman saya.
Terus? Sekarang kami sudah terlanjur ada dalam perjalanan ke Serang, hahaha. Baiklah kami tidak kehilangan akal, kami merubah tujuan ke Tanjung Lesung yang konon merupakan Paradise in the west coast.
Setelah sampai di Serang, kami melanjutkan naik angkot menuju halte bus yang akan mengantar kami ke Labuhan. Perjalanan menuju Labuhan memakan waktu yang cukup lama, kurang lebih 2,5 jam. Hahahahaha, kalau diingat-ingat geli juga, kita kabur ke antah berantah. Telpon-telpon ke penginapan kebanyakan harga permalamnya tigaperempat gaji saya sebulan. Jadi Tanjung Lesung ini merupakan resort yang dikelola oleh pihak swasta. Private banget sih menurut saya kalo pengin escape dari bisingnya ibu kota. Halah.
Sampai di terminal Labuhan, perjalanan kami belum berakhir, kami harus menempuh perjalanan selama 1 jam naik Elf. Sepanjang perjalanan kami disuguhkan lukisan Tuhan yang sangat indah. Laut dan langit biru dengan hembusan angin.
Elf yang kami tumpangi tidak dapat mengantar kami ke pantainya, hahaha. Jadi kami memutuskan untuk naik ojek dan mencari penginapan. Semesta memang maha baik, akhirnya kami menemukan home stay milik Ibu Adam. Murah dan nyaman. Kami juga bias menyewa motor untuk jalan-jalan karena, ya gitu dehh, pantainya memang benar-benar ada di ujung.
Sampai di pantainya, sungguh kami nggak nyesel. Sepi waktu itu karena kami datang ketika weekday. Kami hanya duduk, foto, dan menikmati sunset.
sunset!








pantai Bodur

home stay ibu Adam

bonus

semua fotonya no filter ya, hahaha penting abis.
cuacanya sangat mendukung, uuuuu...


kendaraan menuju Serang itu banyak sih, baik dari Bandung maupun Jakarta hehehe, mau naik bus atau travel. Kalau travel ada Xtrans.
Terminal Serang - Pertigaan yang udah deket sama Tanjung Lesung (lupa namanya) = naik elf aja langsung jurusan Serang - Cibalung via Labuhan Rp 30.000,00
Dari pertigaan itu ke pantai bisa naik ojek.
Penginapan Ibu adam Rp 100.000,00 - 150.000,00 semalam, sudah pakai AC, MURAH hahaha
Sewa motor Rp 50.000,00

Pantai Mutun dan Pulau Tangkil, bermain air di Bandar Lampung

Tuesday, July 15, 2014



Bagi beberapa orang, dinas luar adalah pekerjaan yang kurang menyenangkan. Menghabiskan waktu, capek, bosen apalagi kalau harus pergi berminggu-minggu. Tapi saya malah senang kalau mendapat tugas untuk keluar kota. Dinas luar berarti saya akan melihat apa yang belum saya lihat hihi.
Setelah menyelesaikan tugas di Jember  kami harus melanjutkan perjalanan ke Tanjungkarang. Tanjungkarang ada di Lampung, hahaha sebelumnya saya coba cari di google map dimana letak Tanjungkarang itu, tapi nope, saya nggak menemukannya. Ternyata eh ternyata kata sepupu saya yang tinggal di sana ternyata Tanjungkarang adalah Bandar Lampung. Yapantesajasih.
Ini adalah kali pertama saya menginjakan kaki di pulau Sumatera! Hhahaha makanya saya sungguh bersemangat.
'Jadi kemana kita di Lampung nanti?', kata ketua geng.
'KILUAN!!!', dengan semangat saya menjawabnya.
Lalu kami mencari-cari bagaimana caranya ke Kiluan. Tapi sayang sungguh sayang, waktu yang kami miliki nggak cukup untuk ke Kiluan, terus nggak ada mobil yang mau disewa juga untuk dibawa ke Kiluan. Konon Kiluan sangat jauh dari kota Bandar Lampung, jalanannya jelek, dan belum ada listrik.
Baiklah mimpi saya untuk bertemu lumba-lumba pupus sudah. Akhirnya sepupu saya mengajak bermain ke Pantai Mutun dan Pulau Tangkil. Pantai Mutun ditempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam dari kota Bandar Lampung. Di sepanjang jalan akan kita jumpai bangunan-bangunan dengan Singgar di depannya. Singgar merupakan lambang khas kota Bandar Lampung.
And here we go Pantai Mutun!
sayangnya mendung :(

Pantai Mutun dan Pulau Tangkil dilihat dari gardu pandang

banyak yang jualan souvenir di sini


waw bisa bermain kano juga

haha rame abis

sayang, pantainya kotor

Setelah selesai sholat dan makan siang, kami melanjutkan menyebrang ke Pulau Tangkil. Kami menggunakan Perahu Bu Mona, harganya berapa yah, saya lupa -____-
Nggak jauh beda sama Pantai Mutun sih, di Pulau Tangkil kita bisa berenang, main pasir, sama main parasailling. Di sana kami benar-benar menikmati enaknya bermain air. Hahaha


taken by ketua geng



damai abis

Buat kami, Pantai Mutun dan Pulau Tangkil berhasil untuk merefresh pikiran kami sebelum besok harus bekerja lagi.
Terimakasih, Dian. Semoga lain waktu kita bisa ke Kiluan.

di sini tempat berkumpulnya remaja-remaja Bandar Lampung hihi
dan jangan lupa foto di patung Gajah

Pantai Papuma Jember, Surga di Balik Bukit

Monday, May 5, 2014


Jam tangan saya menunjukkan pukul 08:45 ketika kereta yang saya (dan dua teman saya) tumpangi masuk Stasiun Surabaya Gubeng setelah lebih dari 12 jam perjalanan. Pukul 09:00 kami harus melanjutkan perjalanan ke Jember dalam rangka perjalanan dinas.
“aahh masih 4 jam lagi kita sampai Jember,” keluh saya waktu itu.
Perjalanan ke Jember adalah perjalanan terpanjang saya menggunakan kereta api. Sumpah bosan abis haha. Sambil mengisi kebosanan kami googling tempat wisata di Jember. Sayang dong sudah jauh-jauh tapi cuma ngerjain laporan di wisma. Gitu deh ceritanya, sambil menyelam minum air, kalau kata Pak Hafiizh mah work hard, play hard! hahaaa. Rekomendasi yang kami dapatkan dari Google adalah Pantai Tanjung Papuma (Pasir Putih Malikan).
Di sini saya akan skip mengenai pekerjaan saya, pokoknya yang main-mainnya aja lah hehehe.
Setelah sampai di Jember dan melakukan hal bla bla bla malamnya kami cari tahu bagaimana ke Jember, atas saran mbak Indomaret kami harus carter taksi atau mobil, soalnya nggak ada angkutan umum menuju kesana, eh kalaupun ada harus ganti-ganti gitu. Oke deh nggak apa-apa.
Keesokan harinya kami ready to go Papuma haha. Btw di Jember nggak ada yang namanya angkot adanya Lins(?) atau Lin(?) atau Liens(?) gitu saya nggak ngerti nulisnya gimana. Akhirnya takdir membawa kami ke Lins Pak Yudi. Setelah Tanya-tanya, Pak Yudi malah bapaknya nawarin nganterin dan nungguin kami bermain. Setelah tawar menawar kami dapatkan harga RP125.000 untuk seharian itu, Gaeesss itu murah kan, mana kami juga hanya bertiga. Haha and here we go TANJUNG PAPUMA YAAYYYY.
Perjalanan yang ditempuh lebih dari 2 jam ini ternyata tidak sia-sia. Sumpah nggak lebay kalo Papuma ini mendapat julukan Surga Di Balik Bukit.


perjalanan menuju Papuma, berasa mau jalan kemana aja gitu
di sana banyak kebon jagung
terus kalau kalian liat kaya begini kalian mau ngapain? *lensa Nano kotor :(
kaya gini juga, banyi deburan ombaknya beuuh
kalau kami langsung teriak-teriak terus foto-foto

dari kiri ke kanan: saya anak banyak gaya, mbak Devita, Pak Hafiizh ketua geng

nah kalau ini si Bapak yang mengantar kami dan penuh kesabaran nungguin kami main :"
take a rest

kalian tau ini ikan harganya berapa? cuma 60ribu!! murah banget, ini ikan kerapu sama bawal

we are eating like there is no tomorrow
dan ini kereta labu kami





surga di balik bukit



Setelah puas main di Papuma, kami melanjutkan perjalanan ke Watu Ulo, menurut saya sih biasa aja yah, pasirnya nggak putih. Jadi Watu Ulo itu adalah bebatuan yang menjorok ke laut menyerupai Ulo (ular).

Watu Ulo
 Akhirnya rasa penasaran kami dengan Pantai, kami memutuskan untuk pulang. Etapi enggak ding kami mampir dulu ke Taman Botani Sukorambi hehehe.


bonus :p
Over all, nggak nyesel deh kalian kalau berkunjung ke Jember dan berkunjung ke Papuma.

Terimakasih Tuhan, telah menghadirkan semesta yang indah ini
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS